Artikel Terbaru

recentposts

Kronologis KRL Tabrak Truck Pertamina




JAKARTA – Saat-saat menjelang tabrakan antara KRL Commuter Line jurusan Serpong-Tanah Abang dan truk tangki Pertamina menjadi catatan yang cukup penting dibaca.

Kereta nahas yang menabrak truk tangki pertamina itu ternyata nyaris dibatalkan keberangkatannya dan calon penumpang sempat dipersilakan menggunakan KRL berikutnya.

Berikut catatan lengkap yang dikutip dari Kantor Berita Antara:


Perasaan kesal dan gelisah menyelimuti hati calon penumpang kereta rel listrik (KRL) Commuter Line relasi Serpong - Tanah Abang Senin siang (9/12), karena kereta yang seharusnya berangkat dari Stasiun Sudimara pukul 10.38 WIB itu tak kunjung tiba.

Petugas Pengatur Perjalanan Kereta Api (PPKA) di Stasiun Sudimara, melalui pengeras suara, mengumumkan keterlambatan KRL dengan Nomor 1131 tersebut disebabkan masih dilakukan perbaikan pendingin ruang gerbong di Stasiun Serpong.

Bahkan, jadwal keberangkatan KRL tersebut hampir dibatalkan dan calon penumpang dipersilakan untuk naik KRL berikutnya yang berangkat dari Stasiun Maja.

Beberapa saat kemudian, muncul kereta dari arah Serpong dan seketika kedatangan KRL itu menyudahi kegelisahan para penumpang, termasuk saya yang seharusnya meliput kegiatan Rapat Kerja Gubernur pukul 11.00 WIB di Hotel Aryaduta, Jakarta Pusat.

Pukul 10.50 WIB akhirnya kereta berangkat dari Stasiun Sudimara. Kursi di gerbong paling depan sudah penuh oleh perempuan dan sejumlah anak-anak, sehingga penumpang yang naik di Stasiun Jurangmangu dan Pondok Ranji siang itu pun harus rela berdiri.

Gerbong terdepan menjadi favorit bagi penumpang perempuan, karena selain lebih nyaman berdesak-desakan dengan sesama perempuan, penumpang yang turun pun lebih dekat dengan pintu keluar di Stasiun Tanah Abang.

Sesaat setelah meninggalkan Stasiun Pondok Ranji, suasana perjalanan yang tenang sontak berubah mencekam. Kereta yang berjalan kencang seolah berusaha untuk direm mendadak dan tidak lama kemudian terdengar bunyi dentuman seperti kereta menabrak sesuatu.

Beberapa penumpang yang ada di dalam gerbong paling depan langsung berdiri dan berusaha berlari menuju pintu terdekat. Hanya dalam hitungan detik, gerbong pun oleng ke sebelah kanan dan aliran listrik padam.

Teriakan histeris bercampur tangisan anak-anak memecah keheningan di dalam gerbong tersebut. Seruan "Allahu Akbar" dan "Astaghfirullah" bersahut-sahutan di dalam gerbong yang semakin gelap oleh asap hitam.

Dalam kondisi gerbong terguling ke kanan, penumpang saling menindih dan menginjak untuk berusaha mencari pertolongan dari luar gerbong.

"Ibu, tolong saya! Tolong, anak saya mati ini Bu. Anak saya mati!" teriak salah seorang ibu yang berusaha menarik anaknya dari tindihan penumpang lain.

Sambil mencari alat pemecah kaca, yang ternyata tidak ditemukan di dalam gerbong, saya melihat ada seorang perempuan yang berusaha berdiri untuk meminta pertolongan dengan berteriak dan melambaikan tangan melalui celah pintu penghubung gerbong dua.


Terlihat penumpang di gerbong belakang beramai-ramai keluar dari kereta melalui pintu yang belakangan diketahui dibuka secara manual oleh petugas satpam di dalam gerbong tersebut.

Biasanya, gerbong perempuan paling depan dijaga oleh petugas satpam yang akan mencarikan tempat duduk bagi ibu hamil, perempuan lanjut usia maupun ibu yang membawa anak-anak. Namun siang itu tidak tampak satu pun petugas satpam mondar-mandir di dalam gerbong paling depan.

Tak ingin hanya berdiam diri dan berharap pertolongan dari luar, beberapa penumpang juga berusaha mencari jalan keluar dengan menendang pintu gerbong dan menginjak kaca dengan cara seadanya.

Ditambah lagi asap pekat yang merasuki gerbong terasa panas selain juga memerihkan mata dan menyesakkan dada ketika dihirup, seiring dengan melemahnya teriakan kepanikan para penumpang.

Dari dalam, terlihat sebuah sepeda motor bebek tergeletak di bawah gerbong yang miring tersebut. Bagian knalpot sepeda motor itu mengeluarkan percikan api.

Dalam upaya pencarian pertolongan dari dalam gerbong itu, bunyi ledakan yang terdengar berasal dari bagian depan kereta menambah histeria penumpang. Belum lagi teriakan warga di luar gerbong bahwa terdapat api, yang entah dari mana asalnya.

Mencoba untuk tidak ikut dalam arus kepanikan, penumpang berusaha membantu seorang perempuan yang menginjak-injak kaca paling belakang di dekat kursi prioritas agar terdapat jalan keluar.

Hawa di dalam gerbong semakin panas dan terlihat kobaran api muncul di bagian ruang masinis sebelah kiri. Karena kemiringan gerbong yang cukup curam, dalam waktu tak lama kaca itu pun berhasil hancur.

Evakuasi Dimulai Satu per satu penumpang mencoba keluar melalui kaca jendela tersebut. Setelah berhasil keluar dari gerbong, banyak warga sudah siap sedia menggiring kami menuju tanah lapang berjarak 20 meter dari tempat tergulingnya gerbong KRL tersebut.

Sementara itu, suara ledakan kembali terdengar sebanyak dua kali dan terlihat kepulan asap hitam semakin membumbung tinggi.

Warga dengan sigap mengajak korban yang berhasil keluar dari gerbong untuk berkumpul di Masjid At-Taqwa. 25 menit kemudian, korban dengan luka bakar ringan semakin banyak terevakuasi dari gerbong seiring dengan kedatangan petugas pemadam kebakaran.

Korban luka ringan kemudian dibawa ke salah satu ruang kelas di Komplek SDN Bintaro yang berada persis di seberang Masjid. Di dalam ruang kelas itu sudah tersedia obat antiseptik, kain perban, air mineral dan makanan ringan.

Guru-guru dan karyawan sekolah dari SDN 01, 02, 06, 10, 11 Bintaro tersebut kemudian mendampingi korban yang masih histeris. Penumpang yang masih dapat mengendalikan emosi pascakecelakaan juga saling menguatkan di dalam ruang kelas tersebut.

Sementara itu, situasi di luar semakin ramai. Raungan sirine ambulans memecah kerumunan warga yang ingin melihat proses evakuasi.

Petugas dari Kepolisian Sektor Pesanggrahan dengan dibantu aparat TNI dan masyarakat setempat bahu-membahu mengevakuasi korban dari dalam gerbong yang dilalap api.

Puluhan penumpang, yang sebagian besar berada di gerbong terdepan, dilarikan ke RS Dr. Suyoto, RS Fatmawati dan RS Pusat Pertamina.

Warga sekitar dengan dibantu petugas Polisi dan TNI mendirikan posko di dekat lokasi perlintasan untuk mempermudah keluarga yang mencari kerabatnya.

Selama dua jam, api belum juga padam sampai hujan mengguyur kawasan tempat terjadinya kecelakaan sehingga membantu upaya pemadaman api di gerbong tersebut.

Penyebab Kecelakaan Penyebab kecelakaan tersebut adalah adanya sebuah truk pengangkut bensin yang berhenti di tengah-tengah rel perlintasan kereta api di Pondok Betung.

Belum jelas apa alasan supir truk tersebut menghentikan lajunya di tengah perlintasan kereta yang seharusnya steril dari lalu-lalang laju kendaraan.

Muatan bensin 24.000 liter yang akan didistribusikan ke sejumlah pom bensin di kawasan Bintaro itu menyulut ledakan dan api di badan truk dan gerbong terdepan KRL, memperparah akibat dari tabrakan itu.

Polisi pun menggandeng Komite Nasional Keselamatan Transportasi untuk mengusut penyebab kecelakaan tersebut.

Tanpa bermaksud menghakimi, seharusnya masyarakat lebih waspada dalam berkendara di jalanan Jakarta yang semakin hari semakin semrawut. Jangan sampai kelalaian kecil pengendara kendaraan menyebabkan nyawa orang lain melayang.

Siang itu, tidak ada yang meramalkan akan terjadi petaka yang merenggut nyawa tiga kru KRL dan sedikitnya empat penumpang perempuan.

Masinis Darman Prasetyo dan Asisten Masinis Agus Suroto telah menjalankan darma bakti dengan membawa ribuan nyawa penumpang KRL saat itu.

Sang teknisi Sofyan Hadi pun berupaya semampunya untuk meminimalisasikan korban bergelimpangan sebagai akibat dari tabrakan KRL dengan truk tanki pengangkut 24.000 liter bensin milik Pertamina.

Entah berapa banyak lagi korban yang berjatuhan jika Sofyan tidak mencoba memberi tahu penumpang di gerbong perempuan dan menutup kembali pintu yang memisahkan gerbong dengan ruang masinis.

Siang itu, ketiganya menunaikan tugas mereka dengan baik. Siang itu pula, menjadi peristiwa tak terlupakan dalam riwayat perkeretaapian, khususnya lintas Commuter Line. http://www.kabar24..com/nasional/rea...anak-saya-mati
Kronologis KRL Tabrak Truck Pertamina Reviewed by Alfiansyah Anwar on 17.16 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Hak Cipta Alfiansyah's Blog © 2011 - 2015

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
UA-55669263-1